TUGAS GEOGRAFI
NAMA: Afifah Asri A.
Kelas: x-h
Materi: Dasar Pembagian
Iklim
T.P. 2012 - 2013
1. Iklim Matahari
Klsifikasi iklim matahari berdasarkan banyak
sedikitnya sinar matahari yang diterima suatu daerah dan terpengaruh
oleh besar kecilnya garis lintang. Daerah yang memiliki garis lintang
yang semakin besar, maka semakin sedikit sinar matahari yang diterima
daerah tersebut dan sebaliknya. Iklim matahari merupakan satu-satunya
klasifikasi iklim berdasarkan segi fisik, yakni garis lintang yang ada
di bumi.
Pembagian Iklim Matahari:
1) Daerah Iklim Tropis : 0o – 23,5o LU/LS
2) Daerah Iklim Sub Tropis : 23,5o LU/LS – 40o LU/LS
3) Daerah Iklim Sedang : 40o LU/LS – 66,5o LU/LS
4) Daerah Iklim Kutub : 66,5o LU/LS – 90o LU/LS
1) Daerah Iklim Tropis : 0o – 23,5o LU/LS
2) Daerah Iklim Sub Tropis : 23,5o LU/LS – 40o LU/LS
3) Daerah Iklim Sedang : 40o LU/LS – 66,5o LU/LS
4) Daerah Iklim Kutub : 66,5o LU/LS – 90o LU/LS
2. Iklim Koppen
Berdasarkan curaah hujan dan suhu
a. Iklim A (Iklim hujan tropis): curah hujan tahunan lebih besar dari evapotranspirasi
Suhu bulanan terdingin adah 180 C
Iklim Am : iklim musim
Iklim Aw : iklim sabana
Iklim Af : Iklim hutan tropis
b. Iklim B (Iklim Kering): curah hujan tahunan lebih kecil
Bs: Iklim Stepa
Bw: iklim gurun
c. Ikilm C(Iklim Sedang) Suhu bulanan terpanas > 100C terdingin -30C
d. Iklim D (Iklim hutan salju) suhu bulanan terpanas > 100C terdingin 30C
e. Iklim E (Iklim Kutub) suhu bulanan terpanas < 100C
3. Iklim Junghuhn
Iklim merupakan kondisi atmosfer yang
dihitung dalam jangka waktu tertentu. Beberapa ahli menggolongkan iklim
berdasarkan kriteria tertentu. Franz Wilhem Junghuhn seorang
berkebangsaan Jerman mengklasifikasikan iklim di Indonesia berdasarkan
ketinggian dan jenis vegetasi yang tumbuh di daerah tersebut
Menurut Junghuhn klasifikasi daerah iklim dapat dibedakan sebagai berikut
1. Daerah panas/tropis
Ketinggian tempat antara 0 – 600 m dari permukaan laut. Suhu 26,3° – 22°C. Tanamannya seperti padi, jagung, kopi, tembakau, tebu, karet, kelapa, dan cokelat.
2. Daerah sedang
Ketinggian tempat 600 – 1500 m dari permukaan laut. Suhu 22° -17,1°C. Tanamannya seperti padi, tembakau, teh, kopi, cokelat, kina, dan sayur-sayuran.
3. Daerah sejuk
Ketinggian tempat 1500 – 2500 m dari permukaan laut. Suhu 17,1° – 11,1°C. Tanamannya seperti teh, kopi, kina, dan sayur-sayuran.
4. Daerah dingin
Ketinggian tempat lebih dari 2500 m dari permukaan laut. Suhu 11,1° – 6,2°C. Tanamannya tidak ada tanaman budidaya kecuali sejenis lumut.
1. Daerah panas/tropis
Ketinggian tempat antara 0 – 600 m dari permukaan laut. Suhu 26,3° – 22°C. Tanamannya seperti padi, jagung, kopi, tembakau, tebu, karet, kelapa, dan cokelat.
2. Daerah sedang
Ketinggian tempat 600 – 1500 m dari permukaan laut. Suhu 22° -17,1°C. Tanamannya seperti padi, tembakau, teh, kopi, cokelat, kina, dan sayur-sayuran.
3. Daerah sejuk
Ketinggian tempat 1500 – 2500 m dari permukaan laut. Suhu 17,1° – 11,1°C. Tanamannya seperti teh, kopi, kina, dan sayur-sayuran.
4. Daerah dingin
Ketinggian tempat lebih dari 2500 m dari permukaan laut. Suhu 11,1° – 6,2°C. Tanamannya tidak ada tanaman budidaya kecuali sejenis lumut.
4. Iklim Oldeman
Klasifikasi iklim Oldeman tergolong
klasifikasi yang baru di Indonesia dan pada beberapa hal masih
mengundang diskusi mengenai batasan atau kriteria yang digunakan. Namun
demikian untuk keperluan praktis klasifikasi ini cukup berguna terutama
dalam klasifikasi lahan pertanian tanaman pangan di Indonesia.
Oldeman membagi tipe iklim menjadi 5 katagori yaitu A, B, C, D dan E.
Tipe A : Bulan-bulan basah secara berturut-turut lebih dari 9 bulan.
Tipe B : Bulan-bulan basah secara berturut-turut antara 7 sampai 9 bulan.
Tipe C : Bulan-bulan basah secara berturut-turut antara 5 sampai 6 bulan.
Tipe D : Bulan-bulan basah secara berturut-turut antara 3 sampai 4 bulan.
Tipe E : Bulan-bulan basah secara berturut-turut kurang dari 3 bulan.
Tipe A : Bulan-bulan basah secara berturut-turut lebih dari 9 bulan.
Tipe B : Bulan-bulan basah secara berturut-turut antara 7 sampai 9 bulan.
Tipe C : Bulan-bulan basah secara berturut-turut antara 5 sampai 6 bulan.
Tipe D : Bulan-bulan basah secara berturut-turut antara 3 sampai 4 bulan.
Tipe E : Bulan-bulan basah secara berturut-turut kurang dari 3 bulan.
5. Iklim Schmidt-Ferguson
Schmidt
Ferguson mengkasifikasikan iklim berdasarkan ukuran bulan basah, bulan
lembab dan bulan kering. Kriteria tersebut mengacu pada jumlah curah
hujan yang diterima setiap daerah.Klasifikasi iklim Schmidt Ferguson
dikembangkan pada tahun 1950. Schmidt adalah guru besar dan pejabat
Direktur Lembaga Meteorologi dan Geofisika di Jakarta, sedangkan
Ferguson adalah seorang guru besar pengelolaan hutan Fakultas Pertanian
Universitas Indonesia pada waktu itu. Mereka berdua membuat klasifikasi
iklim ini dengan alasan sistem klasifikasi yang telah dikenal seperti
Koppen, Thornwaite dan Thornwaite kurang sesuai dengan keadaan di
Indonesia khususnya mengenai teknik menilai curah hujan.
Kriteria yang digunakan untuk menentukan bulan basah, bulan lembab dan kering adalah sebagai berikut :
Bulan Basah (BB) : jumlah curah hujan lebih dari 100 mm/bulan.
Bulan Lembab (BL) : jumlah curah hujan antara 60-100 mm/bulan.
Bulan Kering (BK) : jumlah curah hujan kurang dari 60 mm/bulan
Schmidt dan Ferguson
menentukan BB, BL dan BK tahun demi tahun selama pengamatan, yang
kemudian dijumlahkan dan dihitung rata-ratanya. Penentuan tipe iklimnya
mempergunakan tipe iklimnya dengan mempergunakan nilai Q yaitu:
Q : Banyak Bulan Kering x 100%
Banyak Bulan Basah

Berdasarkan besarnya nilai Q, maka tipe iklim Schmidt Ferguson digolongkan ke dalam tipe berikut :